KENDARI, SULTRACK.COM – Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Tahun 2025 digelar secara hybrid di Aula Wakatobi KPwBI Sultra, menghadirkan jajaran pimpinan daerah, legislatif, instansi terkait, mitra strategis, serta para pemangku kepentingan lintas sektor. Acara ini menjadi momentum untuk memperkuat arah kebijakan ekonomi 2026 sekaligus mempertegas komitmen sinergi dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Bumi Anoa.
Hadir dalam kegiatan tersebut Asisten II Bidang Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Setda Sultra, Yuni Nurmalawati, Wakil Ketua II DPRD Sultra Herry Asiku, Deputi Kepala Perwakilan BI Sultra Thathit Suryono, para kepala daerah atau perwakilannya, pimpinan lembaga/instansi, serta mitra strategis lainnya, Sabtu (29/11/2025).
Dalam pemaparannya, Deputi Kepala KPwBI Sultra, Thathit Suryono, mengingatkan bahwa ekonomi global 2025 masih dibayangi berlanjutnya ketegangan geopolitik, terutama konflik Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok global. Kebijakan tarif dagang Amerika Serikat juga menekan kepercayaan pelaku usaha dan memperlambat konsumsi.
“Meski demikian, beberapa kawasan seperti Eropa menunjukkan pemulihan di atas ekspektasi. Berbagai lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2025 berada pada kisaran 2,3–3,2%,” jelasnya.
Lanjutnya, Indonesia disebut tetap mampu menjaga ketahanan ekonomi melalui kombinasi konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, serta peningkatan ekspor termasuk ekspor jasa. Inflasi nasional tetap terkendali dengan tren positif hingga tahun depan.
Di tingkat regional, perekonomian Sulampua tumbuh 4,96% (yoy) pada Triwulan III 2025. Sulawesi Tenggara menorehkan pertumbuhan lebih tinggi, yakni 5,65% (yoy), melampaui rata-rata nasional 5,04% (yoy). Pertumbuhan ini terutama didorong industri pengolahan berbasis ekspor serta konsumsi rumah tangga.
“Inflasi daerah juga kembali masuk sasaran pada Oktober 2025 berkat kolaborasi TPID dan strategi 4K (Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, Komunikasi efektif). Sementara itu, digitalisasi sistem pembayaran menunjukkan lonjakan signifikan: transaksi QRIS mencapai 23,29 juta transaksi dan jumlah merchant terus meningkat,” terangnya.
Dalam sambutan Gubernur Sultra yang dibacakan Asisten II Yuni Nurmalawati, pemerintah provinsi menyampaikan apresiasi kepada BI Sultra atas kontribusi nyata dalam pengendalian inflasi, penguatan UMKM, serta percepatan transformasi digital.
“Pemerintah daerah menegaskan bahwa arah kebijakan 2026 akan menitikberatkan pada, penguatan sektor pertanian melalui ekstensifikasi dan modernisasi, peningkatan kapasitas industri pengolahan logam dasar yang terintegrasi dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik, percepatan pembangunan kawasan industri strategis, akselerasi digitalisasi yang telah menempatkan seluruh pemda di Sultra sebagai Pemda kategori Digital. Sinergi lintas sektor kembali ditekankan sebagai kunci menjaga daya beli dan mengendalikan risiko inflasi,” rincinya.
PTBI Sultra 2025 turut dirangkaikan dengan penyerahan BI Sultra Award kepada 18 mitra strategis, yang dinilai memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat stabilitas dan kebangkitan ekonomi daerah sepanjang tahun 2025. Penghargaan ini sekaligus menjadi apresiasi atas inovasi dan kolaborasi yang terus tumbuh di berbagai sektor.
Menutup kegiatan, KPwBI Sultra menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi serta memperkuat kolaborasi kebijakan bersama pemerintah daerah dan seluruh stakeholders. Dengan penguatan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, BI menargetkan perekonomian Sultra mampu tumbuh lebih tinggi pada 2026, stabil, dan berdaya saing menuju visi besar Indonesia Emas 2045.
Editor: Redaksi


































