SULTRACK.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami inflasi sebesar 4,74 persen secara tahunan atau year on year (y-on-y) pada Oktober 2026. Angka tersebut berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencapai 114,57, Senin (2/11/2026).
Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Konawe sebesar 5,44 persen dengan IHK 114,51. Sementara inflasi terendah tercatat di Kota Kendari sebesar 4,47 persen dengan IHK 113,56.
Kenaikan inflasi tahunan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya indeks pada sebelas kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 6,96 persen, disusul kelompok transportasi sebesar 6,86 persen serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 5,08 persen.
Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami kenaikan 3,98 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,27 persen, pendidikan 2,77 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 2,30 persen.
Selanjutnya, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 1,93 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 1,50 persen, kesehatan 1,21 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,16 persen.
Meski mengalami inflasi secara tahunan, Sultra justru mencatat deflasi bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,04 persen pada Oktober 2026. Adapun inflasi secara kumulatif sejak awal tahun atau year to date (y-to-d) tercatat sebesar 4,53 persen.
NTP Sultra Turun 0,38 Persen
Di sektor pertanian, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Tenggara pada Oktober 2026 sebesar 115,13. Angka tersebut turun 0,38 persen dibandingkan September 2026 yang mencapai 115,56.
Penurunan NTP disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) hanya meningkat 0,31 persen, lebih rendah dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang naik 0,69 persen.
Selain itu, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) Sultra mengalami kenaikan 0,82 persen. Salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan tersebut adalah naiknya indeks kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
TPK Hotel Bintang Capai 37,19 Persen
Pada sektor pariwisata, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Sulawesi Tenggara pada September 2026 tercatat sebesar 37,19 persen. Angka ini meningkat 2,03 poin persentase dibandingkan Agustus 2026 yang sebesar 35,16 persen.
Rata-rata lama menginap tamu hotel bintang juga meningkat menjadi 1,67 malam pada September 2026, dibandingkan 1,38 malam pada bulan sebelumnya.
Berdasarkan asal tamu, sebanyak 98,16 persen merupakan tamu domestik, sedangkan 1,84 persen lainnya merupakan tamu asing. Komposisi tersebut mengalami pergeseran 0,08 poin persentase secara bulanan.
Penumpang Angkutan Udara dan Laut Menurun
Sementara itu, aktivitas transportasi di Sulawesi Tenggara mengalami penurunan pada September 2026.
Jumlah penumpang angkutan udara domestik yang berangkat tercatat sebanyak 52.715 orang, turun 5,97 persen dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 56.062 orang.
Penumpang yang datang melalui angkutan udara domestik juga turun 4,27 persen, dari 53.676 orang pada Agustus menjadi 51.383 orang pada September 2026.
Penurunan juga terjadi pada angkutan laut domestik. Jumlah penumpang yang berangkat tercatat sebanyak 114.585 orang, turun 1,54 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebanyak 116.374 orang.
Adapun jumlah penumpang yang tiba melalui angkutan laut turun 2,17 persen, dari 116.441 orang pada Agustus menjadi 113.918 orang pada September 2026.
Ekspor Sultra Meningkat, Neraca Perdagangan Surplus
Di sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor Sulawesi Tenggara pada September 2026 mencapai US$384,06 juta. Angka tersebut meningkat dibandingkan September 2025 yang tercatat sebesar US$309,07 juta.
Namun, volume ekspor justru mengalami penurunan 26,66 persen. Pada September 2026, volume ekspor tercatat sebesar 226,66 ribu ton.
Komoditas besi dan baja menjadi penyumbang utama peningkatan nilai ekspor. Nilai ekspor komoditas tersebut mencapai US$377,34 juta, meningkat 7,63 persen dibandingkan September 2025 yang sebesar US$350,58 juta.
Sepanjang Januari-September 2026, ekspor Sultra masih didominasi sektor industri pengolahan dengan nilai US$3.037,59 juta atau 99,83 persen dari total ekspor. Nilai tersebut meningkat 9,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US$2.776,86 juta.
Tiongkok menjadi negara tujuan ekspor terbesar Sulawesi Tenggara selama periode tersebut, dengan nilai US$2.940,25 juta atau 95,45 persen dari total ekspor.
Sementara itu, nilai impor Sultra pada September 2026 mencapai US$296,83 juta, meningkat 64,84 persen dibandingkan September 2025. Meski demikian, volume impor turun 3,57 persen menjadi 392,22 ribu ton.
Peningkatan nilai impor terbesar berdasarkan golongan barang terjadi pada kelompok mesin dan peralatan listrik yang mencapai US$50,53 juta atau meningkat 279,36 persen dibandingkan September 2025.
Selama Januari-September 2026, tiga negara pemasok barang impor terbesar ke Sultra adalah Tiongkok senilai US$1.710,80 juta, Singapura US$552,48 juta, dan Malaysia US$320,29 juta.
Berdasarkan golongan penggunaan barang, kelompok bahan baku dan penolong mendominasi impor dengan kontribusi 57,16 persen atau senilai US$1.674,83 juta.
Dengan perkembangan ekspor dan impor tersebut, neraca perdagangan Sulawesi Tenggara pada September 2026 mencatat surplus sebesar US$87,23 juta.
Produksi Padi dan Beras Diperkirakan Turun
Di sektor pertanian tanaman pangan, BPS memperkirakan luas panen padi Sulawesi Tenggara pada 2026 mencapai 143,98 ribu hektare. Angka sementara tersebut turun 7,83 ribu hektare atau 5,16 persen dibandingkan 2025 yang mencapai 151,81 ribu hektare.
Sejalan dengan penurunan luas panen, produksi padi pada 2026 diperkirakan sebanyak 646,38 ribu ton gabah kering giling (GKG). Jumlah tersebut berkurang 34,44 ribu ton atau 5,06 persen dibandingkan produksi 2025 yang mencapai 680,82 ribu ton GKG.
Produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk juga diperkirakan mengalami penurunan. Pada 2026, produksi beras diproyeksikan mencapai 371,20 ribu ton, turun 19,78 ribu ton atau 5,06 persen dibandingkan tahun 2025 yang sebesar 390,98 ribu ton.
Data tersebut menunjukkan sejumlah perkembangan ekonomi Sulawesi Tenggara pada Oktober dan September 2026, mulai dari inflasi, nilai tukar petani, aktivitas pariwisata dan transportasi, perdagangan luar negeri hingga produksi pangan.
Editor: Redaksi














