SULTRACK.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara kembali merilis indikator strategis terkini yang mencakup inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP), ekspor-impor, transportasi, hingga perkembangan pariwisata.
Rilis tersebut disampaikan Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, dalam siaran pers di Kantor BPS Provinsi Sulawesi Tenggara, Rabu (1/4/2026).
Dalam laporan tersebut, NTP Sulawesi Tenggara pada Maret 2026 tercatat sebesar 98,55 atau turun 1,64 persen dibandingkan Februari 2026 yang berada di angka 100,19.
Penurunan ini menunjukkan melemahnya daya beli petani, karena nilai tukar berada di bawah angka 100. BPS mencatat, penurunan NTP dipicu oleh turunnya indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,22 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) justru mengalami kenaikan sebesar 0,43 persen.
“Penurunan NTP ini terjadi karena harga hasil produksi petani mengalami penurunan, sementara biaya yang harus dikeluarkan petani justru meningkat,” demikian keterangan BPS dalam rilisnya.
Jika dilihat per subsektor, NTP tanaman pangan (NTPP) tercatat sebesar 103,36, hortikultura (NTPH) 107,11, dan peternakan (NTPT) 108,43. Sementara itu, subsektor perikanan (NTNP) mencatat angka tertinggi sebesar 109,32.
Di sisi lain, subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR) berada di bawah angka 100, yakni sebesar 89,58, yang mengindikasikan tekanan cukup besar pada subsektor tersebut.
Secara nasional, NTP pada Maret 2026 tercatat sebesar 125,35 atau turun tipis 0,08 persen dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 125,45.
BPS menilai, perkembangan NTP menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur tingkat kesejahteraan petani, sekaligus menjadi acuan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan sektor pertanian ke depan.
Editor: Redaksi














