SULTRACK.COM – Penguatan literasi masyarakat di Sulawesi Tenggara (Sultra) masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. Rendahnya tingkat literasi masyarakat menjadi sinyal kuat bahwa kolaborasi berkelanjutan harus terus dibangun untuk menciptakan budaya baca yang lebih kuat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Sultra pada tahun 2025 tercatat sebesar 58,64. Sementara itu, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Sultra per Februari 2026 berada di angka 29,24 dan masih masuk dalam kategori rendah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan ekosistem literasi tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi lintas sektor, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, hingga lembaga keuangan seperti Bank Indonesia.
Sebagai bagian dari kontribusi tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sultra terus mendorong peningkatan akses literasi masyarakat melalui penyediaan fasilitas perpustakaan yang terbuka untuk umum.
Perpustakaan BI Sultra dapat diakses masyarakat pada hari dan jam operasional kantor, yakni Senin hingga Jumat pukul 08.00–17.00 WITA. Selain layanan perpustakaan fisik, BI juga menghadirkan layanan perpustakaan digital gratis melalui aplikasi iBi Library.
Hingga Semester I tahun 2026, Perpustakaan BI telah menyediakan sebanyak 7.052 koleksi cetak dan elektronik yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara luas.
Kehadiran fasilitas ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pengetahuan sekaligus memperkuat budaya membaca di tengah masyarakat.
Kepala Perwakilan BI Sultra, Edwin Permadi, dalam sambutannya menegaskan bahwa pemahaman ilmu ekonomi saat ini bukan lagi sekadar kebutuhan mahasiswa ekonomi, melainkan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, di tengah dinamika global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, literasi ekonomi menjadi bekal penting agar masyarakat mampu berpikir kritis, memahami berbagai fenomena ekonomi secara lebih jernih, serta mengambil keputusan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.
“Pemahaman ekonomi hari ini bukan hanya milik akademisi atau mahasiswa ekonomi. Semua lapisan masyarakat perlu memiliki literasi ekonomi agar mampu menghadapi tantangan zaman dengan lebih bijak dan rasional,” ujar Edwin.
Ia menambahkan, penguatan literasi ekonomi menjadi bagian penting dalam mendukung stabilitas ekonomi daerah sekaligus memperkuat efektivitas kebijakan Bank Indonesia di tingkat regional.
Melalui berbagai program literasi yang dijalankan, BI Sultra berharap budaya membaca dan pemahaman ekonomi masyarakat dapat terus meningkat, sehingga melahirkan sumber daya manusia yang lebih adaptif, kritis, dan siap menghadapi perubahan global.
Editor: Redaksi













