SULTRACK.COM – Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra) mencapai 5,79 persen pada Triwulan III-2026. Namun, di tengah tren positif tersebut, kondisi ketenagakerjaan justru menunjukkan tekanan dengan meningkatnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 3,52 persen.
Data tersebut merupakan hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara yang mencakup indikator pertumbuhan ekonomi Triwulan III-2026, keadaan ketenagakerjaan Agustus 2026, serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2026.
Kepala BPS Sulawesi Tenggara, Hadi Susanto, menyampaikan perkembangan ketiga indikator strategis tersebut dalam konferensi pers di Kantor BPS Sultra, Jumat (6/11/2026).
Berdasarkan data BPS, ekonomi Sulawesi Tenggara secara tahunan tumbuh 5,79 persen dibandingkan Triwulan III-2025. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp57,63 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp32,17 triliun.
Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama didorong oleh sektor Industri Pengolahan yang tumbuh 15,89 persen dari sisi produksi. Sementara dari sisi pengeluaran, Ekspor Barang dan Jasa mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 22,27 persen.
Secara triwulanan, ekonomi Sultra tumbuh 3,02 persen. Sektor Konstruksi menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 18,97 persen, sedangkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh paling tinggi dari sisi pengeluaran sebesar 11,52 persen.
Secara kumulatif hingga Triwulan III-2026, ekonomi Sultra tumbuh 6,07 persen. Pertumbuhan tertinggi dari sisi produksi berasal dari sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 15,25 persen.
Meski demikian, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih mendominasi struktur ekonomi Sultra dengan kontribusi sebesar 22,34 persen. Sementara Ekspor Barang dan Jasa menjadi komponen terbesar dari sisi pengeluaran dengan kontribusi 47,81 persen.
Pengangguran Meningkat, Angkatan Kerja Menurun
Di balik pertumbuhan ekonomi tersebut, kondisi pasar kerja Sulawesi Tenggara memperlihatkan perkembangan yang perlu mendapat perhatian.
BPS mencatat jumlah angkatan kerja pada Agustus 2026 sebanyak 1,44 juta orang. Jumlah tersebut turun 42,66 ribu orang dibandingkan Agustus 2025.
Penurunan juga terjadi pada jumlah penduduk bekerja yang tercatat sebanyak 1,39 juta orang atau berkurang 44,17 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tercatat sebesar 68,35 persen atau turun 3,32 persen poin. Sebaliknya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat 0,21 persen poin menjadi 3,52 persen.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi lapangan usaha terbesar dengan proporsi 34,17 persen. Berikutnya sektor Perdagangan sebesar 14,65 persen dan Administrasi Pemerintahan sebesar 8,90 persen.
BPS juga mencatat sebanyak 821,66 ribu orang atau 59,12 persen penduduk bekerja masih berada pada sektor informal. Meski mendominasi, proporsi pekerja informal mengalami penurunan 2,01 persen poin dibandingkan Agustus 2025.
Sementara itu, tingkat setengah pengangguran meningkat 1,03 persen poin, sedangkan tingkat pekerja paruh waktu menurun 2,09 persen poin.
IPM Sultra Catat Pertumbuhan Tertinggi
Di tengah dinamika ekonomi dan ketenagakerjaan, pembangunan kualitas manusia di Sulawesi Tenggara menunjukkan perkembangan positif.
Pada 2026, pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sultra tercatat sebagai yang tertinggi selama periode 2022-2026.
Peningkatan tersebut ditopang oleh perbaikan tiga dimensi utama, yakni kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak. Dimensi pengetahuan memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan IPM sebesar 48,02 persen, disusul standar hidup layak sebesar 43,33 persen.
Dari sisi kesehatan, umur harapan hidup saat lahir mencapai 72,23 tahun atau meningkat 0,17 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada sektor pendidikan, Harapan Lama Sekolah (HLS) meningkat dari 13,72 tahun menjadi 13,76 tahun. Sementara Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas naik dari 9,56 tahun menjadi 9,91 tahun.
Adapun dari dimensi standar hidup layak, rata-rata pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan meningkat Rp441 ribu atau 4,01 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan kualitas pembangunan manusia juga terjadi di seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara.
Bahkan, Kabupaten Bombana, Kabupaten Konawe Kepulauan, dan Kabupaten Muna Barat berhasil naik status dari kategori IPM sedang menjadi tinggi. Dengan capaian tersebut, hanya tersisa dua kabupaten di Sulawesi Tenggara yang masih berada pada kategori IPM sedang.
Data BPS ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara terus bergerak positif. Namun, penurunan jumlah angkatan kerja dan penduduk bekerja serta meningkatnya pengangguran menjadi tantangan yang perlu diperhatikan agar pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan perluasan kesempatan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Editor: Redaksi













